Binahong Melawan Kolesterol

Binahong Melawan Kolesterol– Tanaman yang dahulu sekadar penghias taman, kini sandaran menggapai kesehatan.

Binahong

Dapat di komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat itu berlangsung alot. Setiap anggota komisi bergantian mengutarakan pendapat. Namun, H Ali Rohman yang memimpin rapat justru hanya tertegun dan menunduk seraya sesekali memijat-mijat dahi. “Kepala saya sakit sekali, seperti tertusuk jarum dan terasa berat untuk ditegakkan,” ujar Ali yang ketika itu masih menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.

Sakit di kepala itu membuat Ali tak mampu lagi berkonsentrasi memimpin rapat. Ia pun terpaksa menunda sidang. Ali lantas memasuki ruang tunggu untuk beristirahat sejenak sembari merebahkan tubuh di sebuah sofa. Ia lalu meminum obat sakit kepala yang diperoleh dari kotak obat yang terpajang di ruangan itu. Namun, sakit kepala malah semakin hebat mendera.

Rekan-rekan sesama anggota dewan lalu menyarankan Ali untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Sopir pribadi membopong Ali dan bergegas menuju rumahsakit. Hasil diagnosis dokter, penyebab sakit kepala itu hipertensi akibat kadar total kolesterol yang tinggi. Sayang, Ali tidak ingat betul angka hasil pemeriksaan tekanan darah dan kadar total kolesterol pada 2 tahun silam itu.

Makanan berlemak

Menurut kepala Poliklinik Obat Tradisional Rumahsakit dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, dr Arijanto Jonosewojo SpPD, penyebab tekanan darah tinggi antara lain terjadinya penyumbatan di pembuluh darah akibat endapan kolesterol dalam darah. Kolesterol berasal dari makanan berlemak tinggi seperti daging dan jeroan. Makanan itulah yang menjadi favorit Ali.

Tubuh kita sejatinya tetap memerlukan kolesterol untuk membentuk hormon testosteron bagi laki-laki; memperkuat kandungan bagi kaum hawa. Faedah lain komponen lemak itu sebagai bahan baku pembentukan hormon-hormon steroid. Pada kondisi normal, tubuh memproduksi kolesterol dalam jumlah tepat. Low density lipoprotein (LDL) mengangkut kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh yang memerlukan seperti sel otot jantung dan otak.

Lipoprotein yang terbentuk oleh protein utama bernama apolipoprotein-B (Apo-B) itu mengandung lebih banyak lemak. Oleh karena itu LDL mengambang di dalam darah. Jika jumlahnya berlebih, maka lemak pada LDL itu akan menempel di dinding pembuluh darah. Pada kondisi tubuh normal, high density lipoprotein (HDL)membersihkan lemak berlebih yang menempel itu dan mengangkut kembali ke hati. Hati menguraikan kolesterol, lalu membuangnya ke kandung empedu sebagai asam empedu.

Masalah timbul jika jumlah LDL tinggi, sementara HDL rendah. Akibatnya, timbunan lemak di pembuluh darah makin lama makin tebal karena tidak terangkut oleh HDL. Akhirnya terjadilah penyumbatan di pembuluh darah. Penyumbatan itu menyebabkan tekanan darah melambung. Bila penyumbatan terjadi di pembuluh darah jantung, menyebabkan serangan jantung koroner; di otak, menyebabkan pembuluh darah pecah alias stroke.

“Jika LDL tinggi, HDL juga tinggi, itu tidak masalah,” ujar Arijanto. Kadar HDL normal minimal 45 mg/dl dan kadar LDL maksimal 150 mg/dl. Jumlah LDL meningkat bila terlalu banyak mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi. Di tanahair, penyakit akibat kadar total kolesterol tinggi menjadi ancaman serirus. Pasien sering kali abai untuk memeriksakan diri karena menganggap gejala yang timbul seperti sakit kepala hanya penyakit biasa.

Itulah sebabnya angka kematian karena penyakit akibat hiperkoleserol tergolong tinggi. Sebab tidak dikendalikan dan lambat penanganan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengambangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, pada 2007 penyakit penyebab kematian tertinggi di tanahair adalah stroke mencapai 15,4%, disusul hipertensi, diabetes mellitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada 2002 penyakit akibat hiperkolesterol merenggut 4,4-juta jiwa, setara 7,9% dari jumlah total angka kematian global.

Binahong

Untuk mencegah dampak buruk akibat kadar kolesterol tinggi, dokter menyarankan Ali menjalani rawat inap. Selama di rumahsakit, ayah 3 anak itu mendapatkan infus cairan elektrolit. Ia juga mengonsumsi obat penurun kolesterol yang terdiri atas 4 tablet dan 2 kapsul tiga kali sehari.

binahong merah

Setelah tiga hari menjalani rawat inap, kondisi tubuh Ali membaik dan dokter mengizinkan pulang. Namun, pengalaman sakit itu tak membendung hasrat Ali untuk mengonsumsi daging dan jeroan. “Saya sulit meninggalkan makanan itu,” ujarnya. Padahal, sebelumnya Ali juga pernah merasakan efek negatif akibat mengonsumsi makanan tinggi lemak itu. Pada 2003, pria yang kini berwirausaha itu menderita asam urat yang berujung batu ginjal.

Sulitnya melepas kebiasaan buruk membuat kadar kolesterol Ali naik-turun. Saat kambuh, suami dari Hj Neneng Siti Aisyah itu mengonsumsi obat penurun kolesterol. Begitu kondisinya normal, ia kembali ke kebiasaan lama. Begitu seterusnya. Gara-gara “bandel” dua tahun lamanya Ali menjadi “pelanggan” dokter. Pada Maret 2011, Ali yang tengah membereskan bangunan di sebelah rumahnya di Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, bertemu dengan Yan Tachyan.

Rekanya itu menceritakan khasiat daun binahong untuk kesehatan. Sejak bertemu Yan itulah, Ali rutin mengonsumsi seduhan daun binahong yang mirip teh celup 2 hari sekali pada pagi dan sore. Setelah dua pekan mengonsumsi, sakit kepala hebat yang mendera setiap kali usai menyantap daging dan jeroan tak pernah ia rasakan lagi. Ia pun berhenti menjadi langganan dokter. “Saya tak khawatir lagi kalau makan gulai,” ujarnya. Meski begitu, dr Arijanto menyarankan agar penderita kolesterol tinggi tetap menjaga pola makan untuk mencegah kambuh.

Bekal wajib

Nun di Bukit Kecil, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Maya Coptiana juga merasakan faedah binahong untuk menurunkan kadar kolesterol. Pada 4 bulan silam, Maya mengeluh sakit kepala hebat saat tengah sibuk bekerja.

Hasil pemeriksaan dokter, tekanan darah sistolik Maya mencapai 160 mmHg, normal 120 mmHg. Sementara tekanan darah diastolik mencapai 100 mmHg, normal 80 mmHg. Dokter menyarankan Maya untuk memeriksa kadar total kolesterol darah untuk mengetahui penyebab hipertensi. Hasilnya, total kolesterol mencapai 220 mg/dl, normal kurang dari 200 mg/dl.

Untuk mengatasinya, dokter memberikan obat penurun kolesterol dan tekanan darah. Setelah 2 hari mengonsumsi, Maya tak lagi merasakan pusing dan sakit kepala. “Tapi ketika berhenti minum obat, terus kambuh lagi, seperti ketergantungan,” ujar ibu 3 anak itu. Maya khawatir mengonsumsi obat sintetis kimia dalam jangka panjang bakal berefek buruk pada kondisi ginjal. Itulah sebabnya ia getol mencari informasi tentang herbal.

Suatu hari rekan sekantor Maya memberitahu tentang khasiat binahong. Tanaman itu membantu menanggulangi hipertensi suami rekannya. Untuk meyakinkan diri, perempuan berusia 49 tahun itu lantas berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang khasiat Anredera cordifolia. Dari pencarian itu muncul nama Bambang Muhamad Ishak di Garut, Jawa Barat, yang menjual herbal daun binahong.

Sejak itu Maya rutin memesan daun binahong segar dari Bambang. Untuk mengonsumsinya, Maya merebus tujuh daun segar dalam dua gelas air hingga tersisa segelas. Ia mengonsumsi air rebusan itu dua kali sehari. Baru sepekan mengonsumsi, pusing dan sakit kepala yang kerap mendera sirna.

Pada Maret 2012, Maya memeriksa tekanan darah. Alhasil, tekanan darah normal, yakni 120/80 mmHg. Total kolesterol pun turun menjadi 180 mg/dl. Belakangan Maya memesan daun binahong kering dalam kemasan kantong seperti teh celup. Sejak itu daun binahong celup menjadi bekal wajib saat bekerja. “Itu untuk berjaga-jaga. Kalau tiba-tiba sakit kepala kambuh, tinggal minum binahong. Kalau beli yang segar khawatir busuk,” ujarnya.

Diduga saponin

Secara empiris, daun binahong manjur mengatasi kolesterol. Namun, bukti ilmiah khasiat binahong menurunkan hiperkolesterol belum Trubus dapatkan. Menurut famakolog di Pusat Studi Obat Bahan Alam Universitas Indonesia, Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, sudah lama masyarakat memanfaatkan binahong sebagai penurun tekanan darah tinggi, kolesterol, dan gula darah, serta mempercepat penyembuhan luka. “Saat ini sedang berlangsung beberapa penelitian potensi binahong sebagai antikanker,” ujarnya.

Guru besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Elin Yulinah Sukandar Apt, menuturkan baru saja menyelesaikan penelitian potensi binahong untuk diabetes dan penurun kolesterol. “Hasilnya bagus. Tapi penelitian itu baru bisa dipublikasikan di jurnal kedokteran, belum bisa dipublikasikan secara umum,” katanya. Hasil penelitian Sri Murni Astuti dan rekan-rekan dari Universiti Malaysia Pahang, yang dimuat dalam Journal of Agricultural Science, secara tidak langsung memberi jawaban tentang duduk perkara khasiat tanaman merambat itu untuk mengendalikan kolesterol darah.

Dalam penelitian itu Sri berhasil mengidentifikasi senyawa saponin pada daun binahong yang mencapai rata-rata 28,14 mg/g, batang 3,65 mg/g, dan umbi 43,15 mg/g. Sumali menduga zat yang berkhasiat menurunkan kadar kolesterol dan gula darah pada binahong adalah triterpenoid saponin seperti boussingide A1 atau larreagenin A. Sifat umum saponin adalah menghambat biosintesis kolesterol dengan cara menghambat kerja enzim yang bekerja pada tingkat fosforilasi, yakni hydroxymethylglutaryl-CoA reductase atau pada pengambilan molekul asetat aktif (acetyl CoA) pada perpanjangan rantai lemak. “Tapi dugaan itu perlu diteliti lebih lanjut,” ujarnya.

Dokter dan herbalis di Kota Malang, Jawa Timur, dr Zaenal Gani, berpendapat binahong berfaedah memperlancar peredaran darah. “Daun binahong memiliki efek hangat, terutama umbinya,” tutur Gani. Namun, heart leaf-sebutannya di Inggris-kalah populer ketimbang herbal lain. Masyarakat lebih mengenal binahong sebagai tanaman hias untuk penghias pagar atau pergola.

Di mancanegara pun demikian. Hanya beberapa negara yang secara tradisional memanfaatkan binahong sebagai herbal, seperti Kolombia, Taiwan, Filipina, dan Vietnam. Di beberapa negara seperti di Australia dan Selandia Baru binahong justru menjadi gulma yang meresahkan karena pertumbuhannya sangat cepat. Oleh karena itu berbagai penelitian berkaitan dengan cara membasmi tanaman merambat itu. Sementara kaitannya dengan kesehatan masih terbatas.

Menurut herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, secara tradisional binahong lebih populer sebagai obat penyembuh luka. Itulah sebabnya Lina lebih banyak memanfaatkan binahong untuk mengobati luka, seperti luka akibat kanker payudara stadium IV.

Melindungi hati

Amankah mengonsumsi daun binahong? Penelitian tentang keamanan daun binahong memang belum ada yang melakukan. Menurut Elin, indikator keamanan herbal biasanya dilihat dari kondisi organ hati dan ginjal setelah mengonsumsi herbal. Pada beberapa penelitian tentang binahong menunjukkan, konsumsi kerabat gendola itu justru berefek melindungi hati alias hepatoprotektor dan memperbaiki fungsi ginjal.

Contohnya pada penelitian Dra Salmah Orbayinah Apt MKes dan Adhita Kartyanto, dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan, kadar alkalin fosfat (ALP) serum pada kelompok hewan uji sebelum dan sesudah diberi ekstrak binahong tidak jauh berbeda. Sementara kadar ALP pada kelompok kontrol melonjak signifikan. Peningkatan kadar ALP biasanya pada pasien penyakit hati seperti sirosis, hepatitis, perlemakan hati, tumor hati, dan intoksikasi obat. (baca Fakta Sahih Daun Jantung, halaman 24-25)

Konsumsi binahong juga memperbaiki kondisi ginjal, seperti dialami Suyanto di Pekanbaru, Provinsi Riau. Ayahanda Sri Widyanti itu menderita gangguan ginjal sehingga mesti cuci darah dua kali sepekan. Sejak dua bulan lalu mengonsumsi daun binahong dua kali sehari. Ia juga mengonsumsi obat hipertensi, jantung, dan pengencer darah. Alhasil, kadar kreatinin turun dari 15 mg/dl menjadi 10 mg/dl, normal 0,6-1,3 mg/dl. Angka itu memang masih jauh lebih tinggi ketimbang normal. Itulah sebabnya hingga kini Yanto masih rutin mengonsumsi air rebusan daun binahong. Efek binahong terhadap gangguan ginjal itu sejalan dengan hasil penelitian Elin dan rekan di Sekolah Farmasi, Insititut Teknologi Bandung. (baca Binahong Stop Gagal Ginjal, Trubus edisi Desember 2011).

Namun, Zaenal Gani mewanti-wanti wanita hamil agar tidak mengonsumsi binahong karena dapat menyebabkan keguguran. Satu per satu faedah tanaman asal Amerika Selatan itu mulai terkuak. Tanaman yang semula sekadar menghias halaman rumah itu kini menjadi sandaran menggapai kesehatan. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Desi Sayyidari R, Susirani Kusumaputri, dan Tri Istianingsih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s