Warna-warni Hidup Pendaki

Warna-warni Hidup Pendaki- Kemenangan Vietkong dalam Perang Vietnam melawan Amerika Serikat antara lain berkat binahong.

Binahong-Merah

Nasib binahong di Australia mirip eceng gondok di Indonesia. Menurut peneliti di Departemen Sumberdaya Alam University of Queensland, Australia, Alan Fletcher, semula masyarakat memanfaatkan binahong sebagai tanaman hias. Daun tebal dan berkilau memikat hati para hobiis untuk merawat binahong. Apalagi jika bunga putih berumbai memanjang, harum pula, itu muncul di ketiak daun. Kian elok sosok binahong. Bunga muncul saat tanaman berumur 2,5-3 tahun.

Begitu juga dengan eceng gondok Euchornia crassipes di sini. Keduanya sama-sama invasif, pertumbuhannya cepat. Apa boleh buat, stempel gulma pun mereka terima. Binahong yang berasal dari Amerika bagian selatan itu cepat menyebar lantaran bisa berkembang biak dengan biji dan umbi. Umbi bisa bertahan hidup sampai 5 tahun sebelum memunculkan tunas.

Jadi herbal

Di Australia, binahong peringkat ke-41 dari total 71 tanaman invasif. Peringkat binahong sebagai gulma invasif kian naik di negara bagian New South Wales, Australia. Di negara bagian yang beribukota di Sydney itu Anredera cordifolia menjadi tanaman ketiga paling invasif. Tak usah kaget, sifat invasif itu sebetulnya tercermin pada sebutan genus. Ahli taksonomi Belanda, Cornelis Gijbert van Steenis yang memberi nama ilmiah pada binahong meminjam bahasa Spanyol untuk menyebut genus itu.

Arti enredadera-asal-muasal kata Anredera-dalam bahasa Spanyol adalah pendaki atau penjalar. Binahong memang pendaki ulung, bergerak sangat cepat. Nama spesies cordifolia bermakna daun berbentuk seperti jantung (cordi = jantung, folia = daun). Di negara seberang, boleh saja binahong mendapat cap gulma karena pertmbuhannya yang amat melesat. Namun, 15 tahun terakhir, di Indonesia tanaman anggota famili Basellaceae itu menjadi herbal.

Menurut dokter sekaligus herbalis di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, dr Zainal Gani, masyarakat mengenal binahong pada 15 tahun lalu ketika pemerintah gencar mempromosikan tanaman obat keluarga. Sejak saat itu, masyarakat memperbanyak dan merawat binahong. “Binahong mudah ditanam, meski kemarau tidak layu sehingga tidak perlu repot merawat,” tutur Yan Tachyan di Kota Garut, Provinsi Jawa Barat.

Ayah 3 anak itu menanam binahong di halaman sebagai tanaman penghias rumah pada 2006. Ia baru mengetahui khasiat binahong ketika tetangganya meminta beberapa daun untuk mengobati luka pascakecelakaan pada 2010. Itulah sebabnya dua tahun silam, ia pun meracik daun binahong siap seduh sehingga konsumen mudah mengonsumsinya. Kini Yan Tachyan pun berwirausaha daun binahong.

Perang Vietnam

Pemanfaatan daun binahong untuk mengatasi luka mengingatkan kita akan kisah perang Vietnam (1950-1975). Selama seperempat abad, tentara Vietnam bergerilya. Untuk mengobati luka luar akibat goresan senjata tajam maupun tembakan, mereka mengunyah daun Anredera cordifolia kemudian membalurkannya di atas bagian yang luka. Dalam waktu singkat, luka kembali pulih sehingga tentara itu dapat kembali ke medan perang.

Pada akhirnya satu per satu khasiat daun binahong itu terbukti secara ilmiah. Keampuhan binahong mengobati luka, misalnya, sesuai riset Purnamasari Widyastuti dari Universitas Muhamadiyah Malang. Purnamasari mengungkapkan daun binahong mengandung senyawa aktif flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan saponin. Yang disebut pertama itu berperan langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Aktivitas farmakologi dari flavonoid adalah sebagai antiinflamasi, analgesik, dan antioksidan (baca: Fakta Sahih Daun Jantung halaman 18-19).

Tak ada catatan pasti kapan binahong masuk ke Indonesia. Namun, menurut Zainal Gani penyebutan kata binahong di Indonesia meminjam ramuan obat tiongkok yang bernama pien tze huang. Peminjaman kata itu karena khasiat binahong mirip pien tze huang antara lain untuk memperlancar peredaran darah, “Sebab binahong memiliki efek hangat terutama bagian umbinya,” tutur Zainal.

Mayarakat sering menyamakan binahong dengan gendola Basella rubra yang sama-sama tumbuh merambat. Keduanya memang sekerabat, sama-sama anggota famili Basellaceae. Hobiis tanaman hias di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Muhammad Apriza Suska, mengungkapkan perbedaan binahong dan gendola tampak pada daun, batang, bunga, dan umbi.

“Batang dan daun gendola lebih berisi atau tebal dibandingkan binahong,” kata alumnus Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu. Bunga binahong juga lebih panjang daripada gendola dengan jarak antarkuntum bunga rapat. Perbedaan paling jelas pada tanaman dewasa. “Batang binahong berumbi, sementara gendola tidak,” ujar Suska.

Binahong juga jarang menghasilkan buah dan biji. Oleh karena itu masyarakat memperbanyak binahong secara vegetatif; gendola, secara generatif dengan biji. Hidup si pendaki Anredera cordifolia memang penuh warna-warni. Semula tanaman hias, lalu gulma, dan kini menjadi herbal. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari Titisari dan Tri Istianingsih)

Keterangan Foto :
Binahong diperbanyak secara vegetatif oleh masyarakat Binahong, dikenal sebagai herbal di Indonesia sejak 15 tahun lalu Yan Tachyan, meracik binahong siap seduh agar praktis Binahong memiliki pertumbuhan cepat seperti enceng gondok sehingga di beberapa negara dianggap sebagai gulma dr Zainal Gani, binahong baik untuk memperlancar peredaran darah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s